Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 21 Februari 2012

SEBAIK-BAIK BEKAL ADALAH TAQWA (2)


SEBAIK-BAIK BEKAL ADALAH  TAQWA (2)
Oleh : Nur Mukhlish Z

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Ali Imran : 120)

4.    Bersabar, termasuk tabah dan disiplin
Yang menyebabkan timbulnya larangan bagi kaum muslimin mengambil mereka sebagai teman setia, dalam ayat ini disebutkan lagi satu sikap yang mengambarkan bagaimana jahatnya hati orang0orang kafir dan hebatnya sifat dengki dalam dada mereka. Berkata Qatadah dalam menjelaskan firman allah ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir : “ Apabila orang-orang kafir itu melihat persatuan yang kokoh dikalangan kaum muslimin dan mereka, memperoleh kemenangan atas musuh-musuh Islam, mereka merasa dengki dan marah. Tetapi bila terdapat perpecahan dan perselisihan dikalangan kaum muslimin dan mereka mendapat kelemahan dalam suatu pertempuran; mereka merasa senang dan bahagia.”
Memang sudah menjadi sunatullah, baik pada dulu sampai sekarang maupun pada masa yang akan datang sampai hari kiamat, bila timbul di kalangan orang kafir seorang cendikiawan sebagai penentang agama Islam, Allah akan tetap membukakan kebohongannya, melumpuhkan hujjahnya dan memperlihatkan, kejelekan, cela dan aibnya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada umat islam dalam menghadapai kelicikan dan niat jahat kaum kafir itu agar selalu bersifat sabar dan taqwa serta penuh tawakal kepadaNya. Dengan memikirkan kelicikan mereka itu tidak akan membahayakan sedikitpun. Allah Maha Mengetahui segala tindak-tanduk mereka.

5.    Berbuat Ihsan. Kebaikan yang berdasar iklas.
Firman Allah  Swt :  Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz[357] atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak Mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya[358], dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir[359]. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. an-Nisa : 128)

Ayat ini menerangkan sikap yang harus diambil istri bila ia melihat sikap nusyus dari suaminya, seperti tidak melaksanakan kewajibannya terhadap dirinya sebagaimana mestinya, tidak memberi nafkah, tidak menggauli dengan baik, berkurang rasa cinta dan kasih sayangnya dan sebagainya. Hal ini mungkin ditimbulkan oleh kedua belah pihak, suami dan istri, atau disebabkan oleh salah satu pihak saja. Jika demikian halnya, maka hendaklah istri mengadakan musyawarah dengan suaminya, mengadakan pendekatan, perdamaian disamping berusaha mengembalikan cinta dan kasih sayang suaminya yang telah mulai pudar.dan hal ini tidak dosa jika istri bersikap mengalah kepada suaminya, seperti beberapa haknya dikurangi dan sebagainya.
Usaha mengadakan perdamaian yang dilakukan istri itu, bukanlah berarti bahwa istri harus bersedia merelakan sebagian haknya yang tidak dipenuhi oleh suaminya, tetapi untuk memperlihatkan kepada suaminya keihklasan hatinya, sehingga dengan demikian suami ingat kembali kepada kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah SWT. Firman Allah Q.S. dalam al-Baqarah: 228
Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'[142]. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Dalam kehidupan keluarga menjadi tujuan agama dalam mensyariatkan pernikahan. Karena itu hendaklah kaum Muslimin menyingkirkan segala kemungkinan yang dapat menghilangkan suasana damai itu dalam keluarga. Hilangnya suasana damai dalam keluarga membuka kemungkinan terjadinya perceraian yang dibenci oleh Allah.
Allah SWT mengingatkan bahwa kikir itu termasuk tabiat manusia.sifat kikir timbul karena manusia mementingkan dirinya sendiri, kurang memperhatikan orang lain. Walaupun orang lain itu adalah istrinya sendiri atau suaminya. Karena itu waspadalah terhadap sikap kikir itu. Hendaklah masing-masing pihak dari suami atau istri bersedia beberapa hak dikurangi unruk menciptakan suasana damai di dalam keluarga. Jika suami berbuat kebaikan dengan menggauli istrinya dengan baik kembali, memupuk rasa cinta dan kasih sayang, melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap istrinya, maka Allah SWT mengetahuinya dan memberi balasan yang berlipat ganda.

6.    Berbuat Ishlah / Perbaikan / Perdamaian
Firman Allah Swt : 
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. an-Nisa’ : 129)

Rasullullah Saw. berlaku adil di antara istri-istrinya. Dalam hal membagi cinta, memberi nafkah, dan perlakuan yang sama. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Adalah Rasulullah SAW membagi giliran istri-istrinya. Ia berlaku adil, dan berdo’a : “ Ya Allah, inilah pembagianku sesuai dengan yang aku miliki maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki, sedangkan aku tidak memilikinya (HR. Ahmad dan penyusun Kitab-kitab Sunan). Maka turunlah ayat ini.
Berdasarkan sebab turun ayat ini, maka yang dimaksud dengan berkelakuan adil dalam ayat ini ialah berlaku adil dalam hal membagi cinta Rasulullah Saw, telah berusaha sekuat tenaga agar beliau dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya, maka ditetapkanlah giliran hari pemberian nafkah dan perlakuan yang sama diantara istri-istrinya. Sekalipun dengan demikian beliau merasa bahwa beliau tidak dapat membagi cinta dengan adil diantara istri-istrinya. Beliau mencintai ‘Aisyah ra dari pada istri-istri beliau yang lain. Karena itu beliau merasa berdosa dan mohon ampun kepada Allah SWT. Dengan turunnya ayat ini hati Rasulullah Saw menjadi tentram, karana beliau tidak berarti dengan kewajiban yang tidak sanggup beliau mengerjakannya.
Dari keterangan di atas dipahami bahwa manusia tidak dapat meguasai hatinya sendiri, hanyalah Allah SWT yang dapat menguasainya. Oleh karena itu, sekalipun manusia telah bertekat akan berlaku adil terhadap istri-istrinya, namun ia tidak dapat membagi cinta antara isrti-istrinya secara adil. Keadailan yang dituntut dari seorang suami terhadap istri-istrinya ialah keadilan yang dapat dilakukannya, seperti adil dalam menetapkan hari dan giliran antara istri-istrinya, adil dalam memberi nafkah, adil dalam bergaul dan sebagainya. Untuk itu Allah Swt. mengingatkan, sekalipun suami tidak dihukum karena tidak dapat membagi cintanya antar istri-istrinya dengan adil, janganlah terlalu cenderung kepada salah satu istri itu sampai istri yang lain hidup terkatung-katung, seperti digantung tidak bertali, hidup merana, hidup dalam keadaan antara terikat lagi dan sebagainya.
Jika para suami selalu berusaha mendamaikan dan menentramkan para istri dan memelihara hak-hak istrinya, Allah mengampuni dan memaafkan dosanya yang disebabkan oleh terlalu cenderung hatinya kepada salah seorang istrinyaiyi, karena Allah maha Pengasih kepada hambaNya. Ayat ini merupakan pelajaran bagi orang-orang yang melakukan perkawinan semata-mata untuk melampiaskan hawa nafsunya saja dan orang-orang yang mempunyai istri lebih dari seorang.
Banyak manusia yang menekan dan tidak menghiraukan suara nurani mereka, dan membeiasakan dirinya dikuasai oleh hawa nafsunya. Terdapat perbedaan yang amat besar antara manusia yang dkuasai oleh nafsunya dan yang diperintah oleh hati nuraninya.
Seseorang yang mendengarkan suara hati nuraninya, tidak bersikap berlebihan dan mampu mengendalikan amarahnya ketika menghadapi keadaan yang sulit dan akan penuh belas kasih, tenggang rasa, sabar dan rela mengorbankan dirinya untuk memberi pertolongan. Sebaliknya, mereka yang menuruti nafsunya, ia terbawa oleh amarahnya dan bertindak dengan perasaan benci dan dendam. Bagi mereka yang memperoleh tindakan ketidakadilan, maka mereka akan menjawabnya dengan keberanian, kejujuran dan keadilan, bukan malah menciptakan ketidakadilan yang lebih besar lagi.

7.    Beribadah kepada Allah dengan ihklas
Firman Allah :
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (Q.S Al-Baqarah : 21)
Secara etimologi (lughatan) kata al-'abdiyah, al-'ubûdiyah, al-’ubûdah dan al-'ibâdah berasal dari satu akar kata yang sama yaitu 'abida yang berarti taat atau tunduk (al-thâ’ah). kata al-'ubûdah atau al-'ubûdiyyah adalah bermakna tunduk (al-khudhû') dan merendah atau menghinakan diri (al-dzull), kata al-'ibâdah, menurut muhammad al-Râzî, berarti ketaatan, dan kata al-ta’abbud berarti al-tanasuk, artinya melakukan pengabdian. sedangkan secara terminologi
العِبادَةُ هِيَ إسْمٌ جامِعٌ لِما يُحِبُّهُ الله ُوَيَرْضاهُ قَوْلاً وَفِعْلاً جَلِيّاً كَانَ أَوْ خَفِيّاً
Berbagai macam bentuk aktivitas manusia yang dicintai dan diridhai allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang dilakukan secara terang-terangan maupun tersembunyi
Seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini diciptakan dan dipelihara (rububiyatullah), dimiliki dan dikuasai secara mutlak oleh Allah SWT (mulkiyyatullah). Karena semuanya milik Allah, maka semuanya dikuasai oleh Allah shg --suka atau tidak suka– pasti akan dikembalikan dan berserah diri kepada Allah SWT:
Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (Ali Imran : 83)
Puncak ibadah (pengabdian) tertinggi adalah penyerahan diri secara total kepada Allah SWT :
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.  (Q.S. al-An'am / 6 : 162)
Berdasarkan ayat-ayat tersebut dapat dipahami, bahwa urgensi orang beribadah itu diantaranya : Ibadah adalah wujud cinta dan bentuk kepatuhan hamba kepada Allah ; Ibadah merupakan implementasi rasa syukur hamba kepada allah ; Ibadah membawa hamba kepada ketenangan hidup (pikir, batin dan memberi kepuasan dari dahaga spiritual dengan jalan yg benar); Ibadah adalah jalan memuliakan diri sendiri, yaitu menuju hamba Allah yang bertaqwa ; Ibadah adalah upaya mencari cinta allah dan terlepas dari murka-Nya.


8.    Menepati janji
Firman Allah
(bukan demikian), Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya[207] dan bertakwa, Maka Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Ali Imran: 76)

Allah menyangkal orang-orang Bani Israil yang mengatakan tidak ada dosa bagi mereka apabila melakukan kejahatan terhadap oarang-orang Islam. Kemudian Allah menegaskan agar setiap orang selalu menepati segala macam janji dan menunaikan amanah yang dipercayakan kepadanya. Demikianlah delapan syarat-syarat dalam membentuk manusia yang bertaqwa, namun bukan berarti hanya terbatas pada delapan hal saja yang dikemukakan dalam al-Qur’an, karena itu tentu saja perlu adanya kajian lanjutan yang lebih tajam dan mendalam lagi tentang kajian kandungan al-Qur’an. Untuk itu marilah kita amalkan dengan sebaik-baiknya sebagai bekal kehidupan manusia menuju terwujudnya keluarga, masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah SWT. Amin.
Wa Allah A’lam bi as-Shawab


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar