Fish

Selasa, 21 Februari 2012

SEBAIK-BAIK BEKAL ADALAH TAQWA (1)


SEBAIK-BAIK BEKAL ADALAH  TAQWA (1)
Oleh : Nur Mukhlish Z., M.Ag.

Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.(Q.S. al-Baqarah : 197)

Istilah taqwa merupakan istilah yang cukup sentral dalam ajaran Islam. Intelektual Muslim asal Pakistan yang kemudian menjadi guru besar di Universitas Chicago, memasukan istilah ini sebagai satu dari tiga konsep kunci etika al-Qur’an, bersama-sama dengan istilah Islam dan Iman.
Istilah taqwa amatlah mudah diungkapkan dalam kehidupan sehari-hari, namun dalam kenyataannya tidaklah mudah untuk menggapai predikat orang yang bertqwa. Walaupun hampir setiap Jum’at, khatib selalu menyampaikan wasiat tentang taqwa, namun realitanya pada dataran praksis kehidupan masyarakat, masih jauh dari cita-cita ideal masyarakat Muslim. Hampir setiap hari, kita semua diberi hidangan melalui media elektronok tentang tindakan kriminal, kasus narkoba, prornografi yang tidak hanya melibatkan kaum remaja, tapi juga generasi tua, tindakan asusila dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.
Istilah taqwa menurut Afif Abd al-Fattah Thabarah dalam bukunya Ruh ad-Din al-Islami diartikan “ seseorang yang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan dari segala sesuatu yang mendatangkan madharat, baik bagi dirinya maupun orang lain”. Lebih lanjut beliau mengatakatan, bahwa makna asal taqwa adalah pemeliharaan diri. Diri tidak perlu pemeliharaan kecuali terhadap apa yang dia takuti, dan yang seharusnya paling ditakuti adalah Allah Swt. Untuk menjadi muttaqin berarti berusaha memelihara diri dari azab dan kemarahan Allah, baik dunia maupun akhirat, dengan cara berhenti pada garis batas yang telah ditentukan, melakukan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
Mirza Nashir Ahmad, mengartikan taqwa dengan the righteous, yaitu orang yang lurus dan budiman. Lebih lanjut beliau mengatakan, bahwa orang yang bertaqwa yaitu yang selalu menjaga dirinya dari perbuatan dosa, atau orang yang memilki mekanisme atau daya penangkal terhadap kejahatan yang merusak diri sendiri dan orang lain. Sedangkan menurut Muhammad Ali, mengartikan istilah tersebut melindungi atau memelihara diri dengan sangat. Oleh karena itu, orang yang bertaqwa berarti : 1) orang yang menjaga diri dari kejahatan ; 2) orang yang berhati-hati ; 3) orang yang menghormati dan menepati kewajiban.
Jika dibuat perumpamaan, hidup bertaqwa di dunia ibarat berjalan di tengah hutan belantara. Seseorang akan berjalan di dalam hutan itu dengan sangat hati-hati. Dia senantiasa mengamati lobang di depannya, supaya tidak terperosok didalamnya, sangat hati-hati terhadap duri, supaya tidak melukai kulitnya, dan waspada terhadap binatang buas, supaya tidak menerkamnya. Oleh karena itu, amat sangat wajar, jika al-Qur’an memberikan arahan, bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa. Adapun syarat untuk mencapai predikat taqwa :
1. Berilmu-beriman, Ikhlas demi mengharap ridla Allah, beribadah / beramal shaleh
Firman Allah :Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.  (QS: Fathir: 28)

Berkaitan dengan tersebut di atas, Ibnu Abbas mengatakan : “yang dinamakan ulama ialah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah itu Maha Kuasa Atas segala sesuatu”. Dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata “Ulama itu ialah orang yang : “tidak mempersekutukan tuhan dengan sesuatu apapun, mengahalalkan yang telah dihalalkan Allah, mengharamkan yang telah diharamkan-Nya, enjaga perintah-perintah-Nya, dan yakin bahwa dia akan bertemu dengan-Nya, yang akan menghisab dan membalasi semua amalan manusia”. Pada ayat tersebut ditutup dengan suatu penegasan bahwa Allah SWT Maha Perkasa menindak orang-orang yang kafir kepada-Nya, Allah Kuasa mengazab orang-orang yang selalu berbuat maksiat dan bergelimangan dosa sebagaimana Allah kuasa memberi pahala kepada orang-orang yang taat kepadanya.
 
2.    Berpegang al-Qur`an dan mengingatnya / mengambil pelajarannya.
Firman Allah : Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu dan kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa". (QS Al-Baqarah : 63).
Maksud ayat ini adalah Allah megingatkan kembali kesalahan lain dari nenek moyang orang Yahudi ketika Allah mengambil janji dari mereka, bahwa mereka akan beriman dan akan mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat, lalu Allah mengangkat bukit Tur keatas kepala mereka untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya supaya mereka beriman kepada-Nya dan berpegang teguh pada kitab Taurat itu.
Isi perjanjian itu ialah perintah Allah kepada mereka: “peganglah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan tetaplah mengerjakan isinya, pelajarilah Taurat itu, perhatikan isinya dan amalkanlah hukum-hukum yang termaktub didalamnya.”
Ayat ini memberi pengertian bahwa orang yang meninggalkan syariat dan meremehkan hukum-hukum Allah disamakan dengan orang-orang yang mengingkari dan menentang-Nya. Sudah sepatutnya ia pada hari kiamat dikumpulkan dalam keadaan buta. Dia tidak dapat melihat jalan kemenangan dan jalan kebahagiaan. Firman Allah :
124.  Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". 125.  Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" 126.  Allah berfirman: "Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan". (QS. Thaha:124-126).
 Imam at-Thabari mnjelaskan terkait dengan ayat diatas, bahwa “ketika kamu mempertanyakan mengapa dibangkitkan dalam keadaan buta, padahal sewaktu di dunia kamu dapat melihat, maka Aku berbuat demikian karena bukankah hujjah, dalil dan penjelasan Kami telah datang kepadamu  dalam kitab-Nya ? tetapi kamu tinggalkan dan berpaling darinya sehingga kamu tidak beriman dan beramal. Hal senada dikemukkan oleh Ibn Katsir, maksud ayat “demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan, bahwa disebabkan sewaktu di dunia kalian telah berpaling dari ayat Allah dan memperlakukannya dengan tidak berhak. Kalian berpura-pura melupakan ayat Allah dan tidak memperdulikannya. Hal inilah Allah Swt membalas perilaku kalian, sebaimana dijelaskan dalam ayat lain :
51.  (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia Telah menipu mereka." Maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami. (Q.S. al-Araf : 51)
 Apabila seorang mengingkari syariat dan menyia-nyiakan hukum-Nya, berarti syariat itu tidak mempunyai bekas (pengaruh) apa-apa pada jiwanya. Sehubungan dengan peringatan ayat ini dapatlah dikatakan orang-orang yang hanya membaca al-Qur`an, tanpa memahami dan tadarus  kandungan isinya, maka mereka tidak mendapat manfaat dari al-Qur`an tersebut. al-Qur’an perlu dikaji (bukan hanya mengaji) dengan dipahami isi kandungannya, kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Maksud menuruti kitab-kitab suci adalah mengamalkan isinya, bukan hanya sekedar membaca dan melagukannya dengan macam-macam lagu yang merdu. Kemudian Allah memerintahkan agar mereka berpegang teguh pada al-Kitab itu dan selalu mempelajarainya dan mengamalkan isinya agar mereka menjadi orang yang bertaqwa.

3.    Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Firman Allah
179.  Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini[254], sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya[255]. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar. (QS. Ali Imron: 179).
Allah tidak akan membiarkan orang-orang Mukmin menghadapi kesulitan. Allah memisahkan / menyisihkan antara orang Mukmin yang munafik dan orang Mukmin yang kuat imannya. Rasulullah bersabda :
َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْمُؤْمِنُ اَلْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اَللَّهِ مِنْ اَلْمُؤْمِنِ اَلضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ اَلشَّيْطَانِ )  أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah dan masing-masing mempunyai kebaikan. Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu jangan berkata: Seandainya aku berbuat begini maka akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan dan terserah Allah dengan apa yang Dia perbuat. Sebab kata-kata seandainya membuat pekerjaan setan." Riwayat Muslim
Allah akan memperbaiki keadaan orang Mukmin yang bersunguh-sungguh, yang kuat imannya dalam menghadapi kesulitan dan kesusahan. Contohnya dalam perang Uhud, karena dipukul mundur oleh musuh dan hampir-hampir patah semangat, dikala itulah diketahui bahwa diantara kaum Muslimin dan orang-orang munafik yang menyeleweng berpihak kepada musuh. Orang-orang yang lemah imannya mengalami kebingungan. Orang yang lemah imannya menghadapi kesulitan menjadi bingung, kemudian datang bisikan syetan untuk dibelokkan mencari jalan pintas, jalan yang dianggapnya lebih mudah, walaupun sampai menyeberang / menyeleweng dari keyakinan yang merekea imankan. Berbeda dengan orang yang imannya bersunguh-sungguh atau imannya kuat, mendorong untuk mendekat kepada Allah, mohon petunjuk, mohon jalan keluar dari kesulitan. Sebagaimana janji Allah yang difirmankan dalam QS. Thalaq: 2-3 :
2 ....barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. 3.Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
 Oarang-orang yang bertaqwa kepada Allah, tidak saja diberi dan dimudahkan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapinya, tetapi ia diberikan pula rezeki oleh Allah SWT dari arah yang tidak disangka-sangka, yang belum pernah terlintas dalam pikirannya. Selanjutnya Allah SWT menyerukan supaya mereka itu bertawakal kepadaNya, karena mencukupkan keperluannya dan mensukseskan urusannya. Bertaqwalah kepada Allah atas keberhasilan usahanya. Setelah ia berusaha dan memantapkan satu ikhtiar barulah ia bertawakal. Bukan bertawakal namanya apabila seseorang menyerahkan kepada Allah SWT tanpa ada urusan dan ikhtiar. Berusaha dan berikhtiar dahulu baru bertawakal menyerahkan diri kepada Allah. Pernah terjadi seorang Arab Badwi berkunjung kepada Nabi di Madinah dengan mengendari unta. Setelah orang arab itu sampai di tempat tujuan, ia turun dari untanya lalu masuk menemui Nabi SAW. Nabi bertanya: “apakah unta sudah ditambatkan?” orang Badwi itu menjawab: “Tidak! Saya lepaskan begitu saja, dan saya bertawakal kepada Allah.” Nabi SAW bersabda: “ Tambatkan dulu untamu itu, baru bertawakal.” Allah SWT akan melaksanakan dan menyempurnakan urusan orang yang bertawakal kepadaNya sesuai dengan kodrat-Nya, pada waktu yang telah ditetapkan.  Allah Swt. berfirman dalam ayat yang lain :
5. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6.  Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 7.  Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, 8.  Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Q.S. asy-Syarh : 5-8)
  Asbab an-nuzul ayat ini, berdasarkan riwayat ibn Jarir dari Hasan al-Bashri, bahwasannya ketika kaum musyrikin melecehkan kaum muslimin dengan kemiskinan yang menimpa mereka, Rasulullah kemudian bersabda:Berbahagialah kalian karena kemudahan telah datang kepada kalian. Ketahuilah sesungguhnya satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Kemudian turunlah ayat di atas. Menurut sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) Telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu Telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila Telah selesai mengerjakan shalat berdoalah. (Bersambung)
Wa Allah A’lam bi as-Shawab




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar